*_Seri Motivasi_*
*BATEREI*
*Oleh _M. Busiri_*
_(Calon Peserta National Workshop Penulisan Buku)_
https://www.instagram.com/p/BTKjsohhaCH/
https://www.instagram.com
____________
Dalam sebuah tulisan singkat, *Prof. Imam Robandi* pernah mengungkapkan, yang maksudnya (dalam redaksi/kalimat saya), _"bila di dapur tidak ada nasi, kegaduhan tidak sampai melanda seisi rumah, tetapi ketika listrik padam separoh dunia serasa kiamat"_.
Dalam situasi demikian, baterei kembali menjadi pusat perhatian.
Kali ini ia menjadi idaman.
Ketika seseorang sedang melakukan _call by phone_, di tengah perbincangan tiba-tiba ia menyela dengan kalimat _"maaf, baterei lowbat"_.
Kali ini, baterei menjadi "kambing hitam".
Ada banyak kemungkinan. Mungkin daya baterei hand phonenya memang sedang melemah. Mungkin karena topik pembicaran terasa sudah mulai _ngelantur_, tidak fokus, atau mungkin juga sekedar alasan karena khawatir pulsanya tergerus habis.
Segala kemungkinan memang bisa saja menjadi penyebab, tetapi kenapa baterei yang harus duduk di kursi tertuduh ?
Di sebuah kelas " unggulan" biasanya para siswanya terdiri dari siswa-siswa "pilihan". Mereka sangat kritis. Kemampuan berpikir mereka sudah berada di level atas dibanding dengan para siswa non kelas "unggulan".
Setiap guru yang mengajar di kelas semacam ini memang harus lebih _extra_ dalam menyiapkan potensi diri. Kalau tidak, dia akan _keteter_ dan diabaikan oleh para siswanya.
Di sebuah Seminar atau Bimtek nampak terlihat tenang. Suasananya monoton dan membosankan tanpa gairah dan tanpa dinamika di sana. Bukan karena para pesertanya sedang menghayati materi yang disampaikan oleh nara sumber.
Tidak sedikit di antara mereka terbuai dalam mimpi masing-masing. Dan ada pula yang sibuk dengan gadget masing-masing.
Di sebuah pos kamling di pojok sebuah kampung, seseorang mengutarakan sebuah pertanyaan kepada teman-temannya untuk memecah keheningan malam, _”Kira-kira menurut kalian, siapa yang lebih berpahala, antara sopir bus yang ugal-ugalan sehingga terdengar riuh rendah do'a dan dzikir para penumpangnya, dengan seorang Khatib Jum'at yang para jema'ahnya banyak mendengkur ?”_
Dengan agak kesal, seseorang melirik jam tangannya yang tidak menunjukkan waktu secara akurat. Ketika ditanya teman sebelahnya, dengan malas ia menjawab, _"baterei arlojiku habis"_.
Padahal ia tahu bahwa baterei arlojinya tidak habis, hanya _setrum_nya saja yang habis.
Seorang guru yang kehadirannya diabaikan oleh para siswanya, para peserta seminar yang hanya sibuk dengan dunia mayannya, jema'ah shalat jum'at yang mendengkur saat khutbah disampaikan, dan jam tangan yang tidak mampu lagi menunjukkan waktu dengan akurat adalah sebuah fenomena yang sama. Fenomena penurunan daya. Yakni sebuah kondisi menurunnya *beda potensial*.
Dalam konteks baterai, orang sering mengatakan _"batereinya habis"_.
Kondisi seperti ini tidak boleh berlangsung terlalu lama.
Seorang guru harus memiliki beda potensial yang tinggi dengan murid-muridnya.
Seorang Khatib harus memiliki beda potensial yang meyakinkan terhadap para jama'ahnya.
Sebuah baterei harus memiliki beda potensial di antara kedua kutub-kutubnya sesuai dengan “spec”nya.
Demikian pula halnya dengan yang lain.
Untuk mengembalikan kepada kondisi ideal seperti ini, maka tidak boleh tidak, harus segera dilakukan langkah *recharging* , proses pengisian kembali potensi yang mulai hilang atau usang karena tidak pernah diupdate.
Dulu, saat saya masih mengajar di SMA Muhammadiyah 1 Bangkalan, Ustadz Usman Hs, BA selaku Principal, selalu mengingatkan, _"jhe' nyeram terros, Dik Busiri. Sambih nyello' " / jangan nyiram terus, Dik Busiri, sesekali nyiduk"_.
Mungkin dalam "bahasa generasi milenia", peringatan itu berarti _"seorang guru, Da'i, Mubaligh atau lainnya, hendaklah selalu melakukan *recharging* dan *up grading* potensi diri"_.
National Workshop penulisan buku di Tawangmangu adalah satu contoh upaya *recharging* itu.
Nopember, 09-11, 2017 kita bertemu kembali untuk _ngecharge_ baterei diri.
__________
_Bumi Perkemahan Desa Langkap, 01 Oktober 2017_










